Kenali Gejala dan Penanganan Autism Pada Anak

1. Anak-anak Autis

Jumlah anak dan orang autis di dunia semakin meningkat. Penelitian yang dilakukan oleh Center for Disease Control and Prevention di Amerika Serikat menyatakan penderita autisme adalah 1 dari 42 anak laki-laki dan 1 dari 189 anak perempuan.

Pada tahun 2015, 1 dari 250 anak menderita gangguan autisme dan sekitar 12.800 anak dan 134.000 orang menderita autisme di Indonesia. Namun total tersebut belum dianggap sah karena di Indonesia sendiri belum ada data yang akurat.

Jumlah anak autis meningkat ini dikarenakan orangtua tidak mengetahui dan enggan menerima atau membuka diri dengan keadaan anak yang memberikan gejala autisme.

2. Gejala yang Muncul Pada Penderita Autis

Orangtua ingin sekali sang anak dapat tumbuh sehat dan normal sejak kecil hingga dewasa, sehingga orangtua tua perlu mengetahui gejala awal anak menderita autis. Gejala autis bisa berupa anak yang suka menyendiri.

Anak yang menyendiri karena mereka memiliki dunia mereka sendiri. Hal yang perlu dilakukan sebagai orangtua adalah mengajak anak pergi keluar.

Mengajak anak pergi keluar akan membuat sang anak lupa dengan dunia yang ada di imajinasinya.  Anak autis akan bisa melihat dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar yang nyata.

Gejala selanjutnya adalah sulitnya anak untuk berkomunikasi. Sulit komunikasi ini ditunjukkan dengan anak yang cenderung diam dan tidak memulai percakapan dengan orang lain.

Anak tidak pandai memberikan ekspresi kepada orang lain. Selain itu, anak autis juga kesusahan untuk menatap orang yang mengajaknya berbicara. Ia akan cenderung melihat ke bawah dan pelafalan ucapan sangat terbatas.

Gejala terakhir adalah emosi anak tidak stabil. Emosi anak autis bisa dibagi menjadi dua, yaitu pasif dan hiperaktif. Emosi anak autis yang pasif mirip seperti yang dijelaskan sebelumnya, susah mengekspresikan diri.

Mereka cenderung menerima keadaan sekitar. Sedangkan, emosi anak yang hiperaktif justru mengekspresikan diri secara berlebihan. Anak autis bisa saja bahagia berlebihan atau sedih yang berlebihan hingga melukai diri sendiri.

3. Cara Mengatasi Anak yang Hiperaktif

Langkah yang tepat untuk mengurasi risiko anak autis adalah menjaga kesehatan tubuh calon ibu. Tidak jarang calon ibu kurang memperhatikan gizi makanan apabila sedang mengidam sesuatu. Tidak jarang pula calon ibu mengonsumsi obat-obatan.

Hal ini bisa menjadi faktor anak bisa berisiko menderita autisme.
Terapi untuk anak autis sangat dianjurkan. Ada berbagai macam terapi, mulai dari terapi wicara dan komunikasi, terapi otot, dan lain-lain.

Kesadaran masyarakat di Indonesia akan autisme mulai menunjukkan peningkatan, sehingga banyak yayasan yang memberikan fasilitas untuk anak melakukan terapi.

Orangtua perlu mencoba berbagai alternatif terapi yang sesuai dengan lingkungan yang diharapkan anak agar penyembuhan anak semakin cepat.

Leave a Reply